Baca storyfeatures
Arsip yang Hidup: Dev Hynes, Blood Orange, dan Seni Sampling sebagai Dialog Dalam dunia produksi musik modern, sampling sering kali diperlakukan sebagai sekadar alat — cara cepat untuk meminjam tekstur atau menyelipkan nostalgia ke dalam lagu baru. Namun bagi Dev Hynes, sosok di balik proyek Blood Orange, sampling adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: sebuah percakapan lintas waktu, sebuah cara untuk menempatkan diri dalam silsilah artistik yang lebih besar, dan pada saat yang sama, mendefinisikan ulang makna silsilah itu sendiri. Hynes adalah seorang polimat sejati — penyanyi, penulis lagu, produser, gitaris, hingga pemain biola yang telah berkolaborasi dengan nama-nama seperti Solange, Carly Rae Jepsen, hingga FKA twigs. Namun justru lewat Blood Orange-lah ia paling leluasa mengekspresikan visi artistiknya yang paling personal dan paling berani. Di sinilah sampling bukan hanya menjadi teknik, melainkan menjadi bahasa. **Membangun Dunia dari Pecahan Kenangan** Album *Freetown Sound* (2016) mungkin adalah pernyataan paling gamblang tentang filosofi sampling Hynes. Album ini menenun sampel dari pidato aktivis hak sipil, kutipan dari buku-buku tentang pengalaman kulit hitam di diaspora, serta rekaman suara ibu Hynes sendiri — menjadikan keseluruhan album bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah kolase memori yang hidup dan bernapas.
Dev Hynes memperlakukan soul, funk, dan R&B Amerika Hitam bukan sebagai pengaruh yang dipinjam, melainkan sebagai dialog yang hidup — Blood Orange adalah percakapannya yang merentang beberapa dekade dengan warisan musik yang membentuk identitasnya.
1 Juni 2026